Adaptasi Makanan Tradisional Bali dan Hidangan Bali Tum Ayam

 Makanan Tradisional Bali

MTB (Makanan Tradisional Bali) memiliki 3 aspek yaitu aspek ideal, aspek perilaku, dan aspek fisik. Ketiganya mempunyai hubungan timbal balik antara satu dengan yang lain. Pada aspek fisik berkaitan dengan kebudayaan, pengolahan dan penyajian dalam hubungannya dengan pemenuhan kebutuhan wisatawan, dari konsepsi yang tumbuh dan berkembang dalam pikiran masyarakat Bali, bahwa MTB sangat berharga, bernilai dan penting. Dari lingkungan pariwisata budaya, proses adaptasi dapat terwujud dengan adanya kecocokan budaya, maka masyarakat Bali mau dan cepat mengidentifikasi diri sehingga motivasi serta adaptasi terjadi secara efektif dalam pengolahan dan penyajian MTB.

Klasifikasi jenis Makanan Tradisional Bali secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu 1) makanan utama (Ajengan atau dedaran): yang terdiri atas : a) nasi yakni nasi jenis Nasi Tulen dan Nasi Moran; b) Goh Nasi yakni berupa be, Jukut, be + Jukut, Timbungan; c) Sambel, yakni berupa Sambel Matah, Sambel Kukus/Tambus, Sambel Goreng; 2) makanan penutup yang berupa minuman, Woh-Wohan, Rujak, dan Jajan.

(Sumber: Ariani Ni Made, Dkk. "Adaptasi makanan tradisional Bali pada hotel berbintang dalam menunjang pariwisata di Kabupaten Badung)

Contoh Hidangan Bali (Tum Ayam/Babi)

(Sumber: Idntimes.com)

Contoh hidangan main course atau makanan utama kuliner Bali yaitu “Tum Ayam/Babi”, Tum ayam atau babi adalah makanan tradisional Bali, kata “Tum” yang berarti bungkus, secara garis besar, tum ayam dapat diartikan sebagai daging ayam yang diolah dengan cara dibungkus. Biasanya, pembungkus yang digunakan adalah daun pisang. Jadi penyajian dalam hidangan tum ini masih tradisional menggunakan daun pisang. Tum ayam atau babi menggunakan bumbu genap. Tum Ayam biasanya disajikan dalam berbagai acara seperti; Galungan & kuningan, piodalan dan pernikahan, tetapi ini opsional tergantung dari masing-masing daerah. Meski demikian, tum ayam juga bisa disajikan untuk konsumsi sehari-hari.

Ada istilah yang menyatakan bahwa yang pertama kali menikmati makanan adalah mata. Karena itu penyajian sangat penting dalam suatu hidangan. Dan juga nilai historis dari sutau hidangan tradisional. Presepsi wisatawan terhadap kualitas produk makanan tradisional bali yang meliputi aspek penampilan (presentation), suhu penyimpanan (serving temperature), rasa dan aroma (taste & flavour), tesktur (texture), serta hiasan (garnish). Makanan Tradisional Bali merupakan salah satu makanan tradisional Indonesia yang cukup terkenal di kalangan wisatawan mancanegara maupun nusantara. Yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa proses adaptasi yang menjadikan hidangan Bali dapat dikenal dan juga karena kecocokan budaya.


(Sumber: Hap Nyam Nyam)


Komentar