Kalimat efektif adalah kalimat yang disusun berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku, seperti unsur-unsur penting yang harus dimiliki setiap kalimat (subjek dan predikat), memperhatikan ejaan yang disempurnakan serta cara pemilihan kata (diksi) yang tepat dalam kalimat. Kalimat yang memenuhi kaidah-kaidah tersebut jelas akan mudah dipahami oleh pembaca atau pendengar. Dengan kata lain, kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pendengar atau pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.
2. Ciri-Ciri Kalimat Efektif
1) Menggunakan diksi yang tepat.
2) Memiliki unsur penting / pokok, minimal Subjek Predikat (SP).
3) Sesuai dengan tata aturan yang di tetapkan ejaan yang disempurnakan (EYD).
4) Merujuk kepada penghematan penggunaan kata.
5) Menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang di gunakan.
6) Menggunakan variasi struktur kalimat.
7) Melakukan penekanan ide pokok.
8) Menggunakan kesepadanan antara struktur bahasa dengan jalan pikiran yang logis serta sistematis.
9) Menyatakan koherensi yang baik serta kompak.
10) Memperhatikan pararelisme.
11) Didasarkan pada pilihan kata yang tepat dan benar.
12) Bentuk komunikasi nya yang berharkat.
13) Diwarnai kehematan/Singkat.
14) Didasarkan pada pilihan kata yang tepat dan benar
3. Syarat Kalimat Efektif
1. Kesatuan
Kesatuan
adalah keseimbangan antara gagasan/pikiran dan keseimbangan struktur bahasa
yang dipakai. Adapun kesatuan gagasan kalimat efektif diwujudkan oleh
kesepadanan yang kompak dan kepaduan dari pikiran yang baik.
Ciri-ciri
dari kesatuan:
a. Terdapat
subjek & predikat yang jelas.
Tidak memakai kata
depan seperti (di, ke, sebagai, dll) sebelum subjek.
Contoh :
a) Di
masjid nurul huda para tokoh agama mendiskusikan masalah kejahatan yang
terjadi. (Salah)
b) Para
tokoh agama mendiskusikan masalah kejahatan yang terjadi di masjid nurul huda
(Benar)
b. Tidak
terdapat subjek ganda
Contoh :
a) Pembangunan
masjid Al-Ikhlas itu kami dibantu oleh warga setempat. (Salah)
b) Dalam
membangun masjid Al-Ikhlas itu, kami dibantu oleh warga setempat. (Benar)
c. Tidak
memakai kata penghubung intra kalimat dalam kalimat tunggal.
Contoh :
a) Mereka
datang agak terlambat. Sehingga mereka tidak bisa mengikuti acara pertama
(Salah)
b) Mereka
datang agak terlambat. Oleh karena itu, mereka tidak bisa mengikuti acara
pertama. (Benar)
d. Predikat
kalimat tidak didahului oleh kata “yang”.
Contoh :
a) Bahasa
Malaysia yang berasal dari bahasa Melayu. (Salah)
b) Bahasa
Malaysia berasal dari bahasa Melayu. (Benar)
2. Kehematan
Kehematan
merupakan usaha menghindari pemakaian kata yang tidak perlu. Maksudnya tidak
menjamakkan kata yang sudah berbentuk jamak, dan tidak mengulang subjek.
Contoh :
a) Karena
saya tidak diundang, saya tidak datang ke pesta itu. (Salah)
b) Karena
tidak diundang, saya tidak datang ke pesta itu. (Benar)
a) Presiden
jokowidodo menghadiri Rapin ABRI hari Senin (Salah)
b) Presiden Jokowidodo menghadiri rapat ABRI Senin itu. (Benar)
a) Mereka
hanya membawa badannya saja (Salah)
b) Mereka membawa badannya saja / Mereka hanya membawa badannya. (Benar)
a) Para
tamu-tamu undangan. (Salah)
b) Para tamu undangan. (Benar)
3. Keparalelan
Keparalelan
adalah kesamaan bentuk yang dipakai dalam kalimat itu. Artinya yakni apabila
pada kata pertama berbentuk verba, maka kata kedua juga harus berbentuk verba.
Contoh :
a) Sang
motivator menjelaskan, dan penerapan sebuah aplikasi pada audien yang hadir.
(Salah)
b) Sang
motivator menjelaskan, memaparkan, dan menerapkan sebuah aplikasi pada audien
yang hadir. (Benar)
4. Kelogisan
Kelogisan
ialah ide kalimat nya dapat diterima oleh akal dan cara penulisannya sesuai
dengan ejaan yang berlaku.
Contoh :
a) Waktu
dan tempat saya persilahkan. (Salah)
b) Bapak
presiden saya persilahkan. (Benar)
5. Kepaduan
(Koherensi)
Koherensi
merupakan terjadinya hubungan yang padu antara unsur-unsur pembentukan kalimat.
Merupakan syarat dari kalimat efektif agar diharapkan nantinya setiap informasi
yang diterima tidak terpecah-pecah.
Contoh koherensi dibawah
ini yakni koherensi yang rusak karena penempatan kata dalam kalimat tidak
sesuai dengan pola kalimat.
Contoh :
a) Ayam
memakan ibu tadi siang. (Salah)
b) Ibu memakan ayam tadi siang. (Benar)
(Sumber: Ilham, Mughnifar. 2019. “Kalimat Efektif – Pengertian, Ciri, Syarat dan Contohnya”. Tersedia pada https://materibelajar.co.id/kalimat-efektif/ )
(Sumber: Diyono, Wahyu. 2014. “Contoh Makalah Bahasa Indonesia Kalimat Efektif”. Tersedia pada http://wede56.blogspot.com/2014/03/contoh-makalah-bahasa-indonesia-kalimat_25.html )

Komentar
Posting Komentar